Main Area

Main

Tiga Kelompok Sepakat Berdamai Setelah Prosesi Patah Panah

Proses patah panah yang dilakukan oleh  Bupati Mimika, dan perwakilan Dari Dandim 1710 Mimika/ Foto : Dok Tabukanews.com


TIMIKA , TABUKANews.com - Tiga kelompok yang bertikai yakni kelompok atas, kelompok tengah, dan kelompok bawa resmi berdamai setelah di lakukan prosesi adat patah panah dan pemberian bantuan dari Pemkab Mimika dan Pemkab Puncak senilai Rp 3 miliar kepada kelompok yang berdamai.

Acara patah panah tersebut dihadiri oleh Bupati Mimika Eltinus Omaleng, SE. MH, Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto, S. IK. MH, Sekda Kabupaten Mimika Ausilius You, S. PD. MM. MH, Danramil Kota 1710-02 Kapten Inf. Heru, Kadisdik Kabupaten Mimika Jenny Ohesty Usmani, Danyon B Brimobda Papua Kompol I Gede Putra, S. IK, SH, Wakapolres Mimika Kompol Arnold Korowa, SH, Tokoh masyarakat Aser Murib dan Ricky Dolame, kadis Perindag Kabupaten Mimika Bernadinus Songbes, Kadisnaker Yosefin Sampelino, Kadistanbun Yohana Paliling, Anggota DPRD Mimika Komisi B Den B Hagabal, Ketua Komisi C DPRD Mimika Yohanis Kibak, Anggota DPRD Mimika Komisi C Yohanis Wantik.

Upacara prosesi adat terlihat ketiga kelompok sepakat berdamai. Hanya saja diminta untuk menuliskan nama-nama korban yang dibunuh sehingga tidak diterima oleh kelompok tengah sehingga sempat terjadi lempar panah membuat situasi menjadi memanas. Polisi yang berbeda di lokasi upacara perdamaian merespon dan membubarkan kedua kelompok dan meminta kepada kedua kelompok untuk berkumpul dan melaksanakan prosesi adat patah panah.

Sementar itu Bupati Mimika Eltinus Omaleng SE, MH memberikan waktu kepada kedua kelompok untuk mendatangi lokasi upacara perdamaian untyk melaksanakan prosesi adat patah panah dengan ancaman akan menangkap waemom.

Salah satu Tokoh pemuda Ricky Dolame mengatakan, kelompok yang bertikai merupakan saudara. Dan dirinya berjanji akan menghentikan perang, sebab perang tersebut telah lama berlangsung dan telah merugikan semua pihak baik dari kelompoknya maupun kelompok yang berlawanan.

"Saya dengan bapa Ade saya yang berada di kelompok sebelah dan kita tidak ingin berperang. Karena perang ini sudah berulang kali," kata Ricky Dolame.

Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto, S.IK. MH dalam sambutannya mengatakan, perang yang berlangsung sudah terlalu lama hingga menyebabkan korban jiwa, namun usai prosesi patah panah dirinya berharap agar ketiga kelompok bisa hidup berdampingan satu dengan yang lain.

Ia mengungkapkan, Kwamki Narama pernah mengalami kejayaan pada era 90an dimana Kwamki narama menjadi pusat perekonomian, pusat pemerintahan. Hanya saja setelah adanya konflik di Kwamki narama semua hilang ditelan waktu

"Kita pernah mengalami masa kejayaan dan saya mendapat cerita bahwa distrik Kwamki narama ada sentra niaga, pemrekonomian tapi setelah konflik itu ada semua menjadi hilang," kata Kapolres.

Kapolres menjelaskan, konflik yang terjadi bukan karena perang suku tetapi perang saudara. Sangat disayangkan apabila adanya perang antara saudara sendiri. Oleh sebab itu dirinya meminta kepada kelompok yang berperang agar hentikan perang sehingga pembangunan bisa masuk ke Kwamki narama

"Ini bukan perang suku tapti ini ada kekhilafan jadi saya minta tidak ada yang membawa senjata tajam untuk keamanan dan Kam berkewajiban untuk mendukung program Bupati Mimika Dan menjaga keamanan sehingga pembangunan bisa masuk kembali," jelasnya.

Terlepas dari itu dirinya menegaskan akan menindak tegas oknum-oknum yang masih membawa saham sehingga membuat kenyamanan warga menjadi terganggu. Apalagi ditemukan pihaknya tidak segan-segan untuk menindak tegas oknum yang bersangkutan

"Apabila ada oknum yang tidak mau berdamai atas nama TNI polri kami akan menindak tegas oknum yang bersangkutan. Apabila ada kejadian jangan dikembalikan ke hukum adat tapi kita teruskan ke hukum positif," tegasnya.

Sementara itu pada kesempatan yang sama Bupati Mimika Eltinus Omaleng, SE. MH mengatakan, Proses patah panah yang dilakukan saat ini merupakan akhir dari konflik yang terjadi di Kwamki Narama, namun dirinya menegaskan apabila terjadi hal serupa setelah proses perdamaian maka oknum tersebut akan ditangkap dan dibawa keluar Timika

"Ini sudah aman tapi saya tegaskan oknum yang buat itu akan saya tangkap dan bawa ke Jayapura kalau oknumnya banyak saya akan bawa ke Jakarta," kata Eltinus Omaleng.

Ia meminta agar tidak terjadi perang, pasalnya nama Kwamki Narama hanya meninggalkan nama, sebab tidak ada perdamaian yang tercipta di Kwamki Narama

"Kalau kita terus berperang berarti hanya tinggal nama Kwamki narama saja. Jadi saya akan siapkan tiket untuk kirim pulang semua," pintanya.

Selanjutnya dirinya berjanji akan melakukan pembangunan dibarengi dengan pembangunan pos TNI-Polri di Kwamki narama sehingga stabilitas keamanan di Kwamki narama bisa benar-benar pulih

"Saya bawa kepala dinas semua supaya mereka bisa lihat apa yang harus mereka lakukan sampai pembangunan pos TNI polri supaya mereka bisa menjaga keamanan di Kwamki narama," harapnya. (tim)

2019 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika