Main Area

keluarga besar johannes rettob
keluarga besar tabukanews

Main

Pimpinan Tertinggi Lemasa Bersikap Tegas Sayangkan Surat OKIA ke Freeport

Timika, TabukaNews.com  - Lembaga  Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa) menyayangkan tindakan Organisasi Kaum Intelektual Amungsa (OKIA) yang mengirim surat kepada Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Toni Wenas, yang meminta agar PTFI segera menghentikan sementara bantuan dana operasional Lemasa dan Lemasko (Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro). Surat itu dengan nomor surat 056/BPH/OKIA/KAB-MMK/XI/2021.

Hal yang menjadi alasan dari OKIA mengirimkan surat itu adalah agar dilakukan pembenahan kembali Lemasa dan Lemasko. Selain itu  OKIA juga meminta agar segera diselenggarakan Musyawarah Adat (MUSDAT) Masyarakat Adat Suku Amungme, serta membenahi Lemasko dengan menyelenggarakan Musyawarah Istimewa Masyarakat Adat Suku Kamoro.

Hal yang membuat badan pendiri  dan Amungme Neuseri Lemasa tidak menerima dikarena dalam isi surat tersebut OKIA mengatakan, adanya peristiwa saling angkat mengangkat direktur Lemasa layaknya sistem oligarki (kerajaan) yang tidak pernah diakui atau tertuang dalam ADRT Lemasa.

“Apa yang disampaikan OKIA melalui suratnya yang dikirim ke Toni Wenas tidaklah benar. Sebab di dalam Lemasa dan Lemasko terdapat ADRT yang kuat dan baku, sehingga tindakan OKIA ini sangat tidak tepat, dan tidak sesuai mekanisme yang selama ini tertuang dalam lembaga adat. Karena sesungguhnya PTFI hanyalah mitra dan pendonor dan sama sekali tidak melakukan intervensi terhadap dua lembaga adat tersebut” ketus Direktur Eksekutif  Lemasa, Stingal Johnny Beanal, saat melakukan jumpa pers di Kantor Lemasa di Jalan Restu, Selasa (07/12/2021).

Menurutnya, PTFI merupakan mitra  dan pendonor yang merupakan bentuk implementasi atas MoU dan lembaga adat tahun 2000 tentang bantuan operasional Lemasa dan Lemasko.

“Sebagai pimpinan direktur eksekutif Lemasa saya menyatakan sikap bahwa apapun yang disampaikan OKIA  tanpa terkecuali, yang menyangkut dengan ketidakpuasan atau kritikan terhadap lembaga, harus disalampaikan di dalam honai yaitu Lembaga Adat yang sudah terbentuk. Artinya semua pembicaraan yang menyangkut dengan Lemasa dikembalikan ke Lemasa untuk didiskusikan dan dimusyawarahkan bersama. Bukan dibahas di Jakarta dengan pimpinan PTFI ,” tegasnya.

Semestinya menurut Stingal  jika pembahasan terkait Lembaga adat, baik itu Lemasa dan Lemasko, harus dibahas di Kabupaten Mimika

“Saya tegaskan, semua pembicaraan dalam surat tersebut, untuk dibahas ke Mimika, sebagaimana kantor lembaga adat tersebut berdomisili. Bukan di Jakarta”ketusnya.

Selaku pimpinan Lemasa, Stingal  menyatakan dengan tegas kepada Managemen PTFI bahwa kedua lembaga Amungme Kamoro ini tidak pernah bersengketa dengan siapapun. Jikalau ada persoalanpun, ia meminta agar persoalan tersebut dikembalikan kepada Lemasa dan Lemasko.

Ia menilai dengan adanya surat dari OKIA, secara tidak langsung OKIA telah melakukan intervensi kepada PTFI. Untuk itu demi menjaga hubungan kemitraan dua lembaga dan PTFI, semua persoalan adat harus diselesaikan di dalam  honai lembaga adat. 

“Terkait poin Musdat, yang disampaikan oleh OKIA adalah bukan sesungguhnya menjadi ranah OKIA. Tetapi melalui torinegel dan Amungme Neuseri Lemasa yang merekomendasikan kepada direktur eksekutif sebagai pelaksana untuk melangsungkan Musdat. Itupun dilihat lagi dari kondisi situasi Lembaga tersebut, dan selanjutnya direkturlah yang merekomendasikan membentuk pantia Musdat, bukan OKIA ataupun organisasi lain yang tidak memiliki kewenangan mengusulkan Musdat,”terangnya.

Stingal kembali menegaskan bahwa selama ini Lemasa tidak ada konflik internal atau horisontal dengan pihak manapun. Sejauh ini, Lemasa hanya menganggap  OKIA hanyalah semacam komunitas atau paguyuban saja, sehingga surat yang disampaikannya ke PTFI tidak perlu mendapat tanggapan. Kepentingan politik praktis tidak boleh dibawa dalam lembaga. Dan jika kemudian ada tokoh-tokoh Amungme yang sengaja membuat isu untuk memprovokasi warga, maka lembaga akan melaporkan hal tersebut di pihak berwajib,” tegasnya.

Di samping itu, Anggota Amungme Neuseri, Martinus Magal, mengajak agar masyarakat Amugme harus bersatu. Jangan terprovokasi dengan isu yang sengaja ingin memecahbelah masyarakat Amungme.

“Kita harus bersatu mendukung pembangunan di semua lini sektor, untuk itu saya minta OKIA jangan jadi provokator,”ucapnya

Hal yang sama juga disampaikan oleh Wakil Ketua Amungme Neuseri,  Dom Kum, meminta dalam hal ini lembaga harus mengambil sikap dengan  duduk bersama membahas persoalan ini di lembaga adat. “Tetapi tidak serta merta harus mengintervensi perusahaan untuk menghentikan  dana operasional Lemasa dan Lemasko,” tandasnya. (Manu)

2022 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika