Main Area

pesparawi xiii
robby omaleng

Main

Pesparawi XIII Tetap Digelar di Timika

Timika,TabukaNews.com - Menjawab kekhawatiran beberapa LPPD kabupaten mengenai agenda lomba Pesparawi XIII yang bisa digelar dengan sistem zonasi, Ketua LPPD Provinsi Papua Elly Loupatty menegaskan dalam Rapat Teknis Penyelenggaraan Pesparawi XIII Se Tanah Papua Tahun 2021 Tingkat Provinsi Papua di Hotel Grand Tembaga Timika, Sabtu (27/3), bahwa kegiatan Pesparawi XIII tetap akan digelar di Kabupaten Mimika.

Rapat kerja dihadiri Ketua Umum Panitia Pelaksana, Johannes Rettob, Ketua LPPD Provinsi Papua Elly Loupatty, Ketua Harian LPPD Provinsi Papua, Dr Konstan Karma, Sekretaris Umum Panpel Dr I Nyoman Arka, Ketua Konsumsi Ny Pere Omaleng didampingi Wakil Ny Suzzy Rettob, Plt Asisten 3 selaku koordinator bidang Akomodasi Hetty Tandiyono, Kepala Inspektorat selaku koordinator Bidang Musda Sihol Parlinghotan serta para pelatih, LPPD utusan kabupaten/kota se-Provinsi Papua serta panitia pelaksana.

Ketua Umum Panpel Johannes Rettob dalam arahannya mengaku bersyukur dalam dua hari, sejak Kamis (25/3), kegiatan Raker berjalan lancar.

Dikatakan, Panpel di Mimika sejak awal sangat bersemangat. Namun sejak dihantam pandemi covid setahun terakhir, ikut menurunkan tensi semangat kerja. Ternyata, diluar dugaannya saat ini Panpel kembali bangkit bersemangat, sehingga dirinya yakin Pesparawi XIII akan sukses.

"Hari ini awal yang baik, apa yang kita sudah siapkan sejak tahun 2019 memang banyak sekali perubahan. Dengan adanya pandemi ini terpaksa Papua Barat laksanakan sendiri dan sudah selesai. Kita Papua tanggal 30 Oktober sampai 6 November 2021. Banyak konsep yang tentu berubah yang kita bicarakan hari ini," bebernya.

John Rettob mengemukakan, satu hal yang penting didiskusikan adalah bagaimana Pesparawi dilaksanakan dalam masa pandemi covid 19. Kedua, terkait akomodasi, pasti banyak perubahan. Panitia sedang menyusun konsep apakah akomodasi diundi ulang atau diserahkan ke panitia lokal.

"Terkait konsumsi sudah tandatangan pihak catering dengan kontingen kabupaten/kota. Waktu itu 42 kabupaten/kota, sekarang tersisa 29. Ibu-ibu pemasak sudah semangat, sudah beli peralatan. Tapi karena covid, akhirnya semua munazir, sekarang mereka sudah tanya-tanya buat apa alat yang kami beli," ungkapnya.

Ketiga, hal yang penting dibicarakan tempat pelaksanaan lomba karena setelah PON maka digunakan venue.

"Mudah-mudahan dalam pertemuan hari ini, ada konsep yang kita putuskan bersama," bebernya. Sedangkan Ketua Umum LPPD Provinsi Papua, Ellia Loupatty, dalam arahannya mengatakan, hari ini LPPD dan panitia memproklamasikan kembali pelaksanaan Pesparawi di Mimika. Hanya saja gaya dan cara yang harus dibicarakan.

"Kita awalnya berharap gaya dan cara normal. Tapi karena pandemi, semua berubah. Panitia dan LPPD, mari kita semua berdoa supaya kondisi normal. Karena akan bertambah 4.000 sampai 6.000 orang selama 10 hari di Timika ini," ungkapnya. Elly mengingatkan peserta kontingen dan panitia agar berhati-hati dengan sampah.

Kata dia, sampah merupakan sumber penularan Covid 19. "Makanya harus pikirkan makanan kotak, atau bagaimana. Saya harap panpel sudah siapkan protokol pembuangan sampah. Kalau bisa jangan pakai botol, pakai botol masing-masing," usulnya. Dia mengemukakan, panitia harus meningkatkan kualitas pelayanan apalagi fasilitas sudah sangat siap. "Ini hal sepeleh tapi sangat berpengaruh, harap jangan curiga dewan juri. Jangan seperti di daerah lain yang kisruh akibat dewan juri. Yang ada dewan juri kita pasti netral. Intinya kita memuliakan memuji Tuhan. Juara itu nomor dua," ungkapnya.

Seperti syair lagu, Elly meminta semua pihak membuang rasa cemburu dan menepiskan curiga, karena LPPD Provinsi Papua tidak berkepentingan tentang siapa yang juara. "Bagaimana Pesparawi di Timika orang yang tidak seiman ikut merasakan sukacita yang mendalam dengan moment ini," harapnya.

Dikatakan, untuk pandemi 19, dirinya sudah berkoordinasi dengan Satgas Covid Provinsi Papua. Pihaknya akan kembali berkoordinasi didampingi Panpel dan Kadinkes Mimika. "Saya baru selesai rapat kerja sinode GKI yang berlangsung di Ayamaru. Kami Raker di sana di tenda besar lapangan bola, mereka sewa tenda dari Jawa. Jaminan dari Satgas Papua Barat karena ada pengecualian untuk gereja maka diijinkan. Tapi protokol kesehatan sangat ketat. Hanya panitia yang punya ID card jelas yang boleh ada dalam kemah acara," katanya. Dia juga berharap panitia menyiapkan live streaming agar masyarakat di Papua bisa menonton.

"Saya juga harap peserta dari sini pulang sosialisasi di kabupaten/kota masing-masing, manfaatkan radio untuk sosialisasikan Pesparawi. Bikin renungan di gereja dan pasang spanduk bahwa pelaksanaan Pesparawi di Mimika," ujarnya. Sedangkan untuk rencana rekreasi dari panitia akan dilihat kembali apakah bisa atau tidak. Karena kondisi covid 19 sehingga perlu dipertimbangkan. "Sa jaga ko, ko jaga saya, tong semua selamat," ucapnya.

Selanjutnya Ibu Anna dipercayakan sebagai moderator memandu diskusi metode penyelenggaran pesparawi XIII Se Tanah Papua tahun 2021. Usulan disampaikan Pdt Jona dari LPPD Jayawijaya yang menyatakan setuju Pesparawi tetap di Timika. Namun dia minta panitia memikirkan plan B terkait covid 1919.

Menurutnya, peserta dari Paniai, Deiyai, Dogiyai, masih beranggapan vaksin identik dengan 666 atau kode antikris. "Kalau kita paksakan mereka tidak ikut. Sempat alot pembahasan hari pertama di Jayapura. Ini perlu dipikirkan," bebernya. Ia meminta panitia memasang televisi di penginapan supaya bisa ikuti nomor urut lomba lewat televisi atau live streaming.

Yuter Wenda, dari LPPD kabupaten puncak Jaya menyatakan tidak setuju dengan vaksin. "Orang bicara di sini yang dengar sudah lari 1000 meter di sana. Kami minta tolong kebijakan cukup rapid antigen," bebernya. Pdt Viktor LPPD dari Kabupaten Merauke mengapresiasi LPPD dan Panpel Mimika. Pihaknya meminta kesiapan pesawat hercules untuk mengangkut peserta. "Kami akan himbau di gereja dan pasang spanduk sosialisasi pesparawi di Timika," paparnya.

Sedangkan Pdt Oskar dari Supiori minta lomba disiasati supaya peserta tidak terpapar covd 19. Dia meminta sistem zona supaya tidak terjadi konsentrasi massa di Timika.

Menjawab itu, Ketua Panpel, John Rettob mengemukakan, tidak ada plan B. Pesparawi tetap di Timika. "Karena kita tidak mungkin kembali ke belakang lagi. Hanya berkaitan dengan usulan-usulan tadi kita harus diskusi. Soal usulan pak Wenda kami akan pertimbangkan, saya setuju kalau kita antigen. Nanti kita koordinasi lagi dengan Satgas. Kalau mengenai transportasi kita siap angkut, asal koordinasi titik kumpul dan ada permintaan dari kontingen," ujarnya.

Penegasan serupa disampaikan Elly Loupatty. Dikatakan, Pesparawi tetap di Timika. "Kita bicarakan teknis. Dewan juri diberkati para pendeta saat pembukaan. Soal Supiori kami sangat mengerti. Tapi kami minta kita yakinkan orang tua. Kami bukan sembarang laksanakan kegiatan ini tapi memperhatikan betul kesehatan dan keselamatan, yang kedua baru kejuaraan. Nanti ada rapat lanjutan dengan Satgas Provinsi untuk bicarakan ini," imbuhnya (Evan)

2021 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika