Main Area

pesparawi xiii
ulang tahun ke 36

Main

Pengelolaan Proyek Freeport Tidak Mengakomodir Masyarakat Asli

Tokoh Masyarakat Amungme Yopi Kilangin (Tengah) saat melakukan Jumpa pers dengan wartawan di Jalan Cendrawasih Sp 2, Timika, Selasa (17/4) / Foto : Dok Tabukanews.com

TIMIKA, TABUKANews.com -  Tokoh masyarakat Amungme di Kabupaten Mimika, Papua, Yosep Yopi Kilangin mengeritik keras sistem pengelolaan proyek-proyek PT Freeport Indonesia yang dinilainya sama sekali tidak mengakomodasi kepentingan masyarakat asli.

Hal ini disampaikan Tokoh masyarakat Amungme di Kabupaten Mimika, Papua, Yosep Yopi Kilangin kepada wartawan, Senin (16/4) kemarin.

Yopi Kilangin, putra almarhum Mozes Kilangin, tokoh asli Suku Amungme Papua yang ikut menandatangani 'Januari Agreement 1974' itu mengatakan kebijakan pengelolaan proyek Freeport yang diatur oleh Departemen Contrack Group dan Departemen Central Cervice sarat praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Kedua departemen yang mengurus berbagai proyek konstruksi di lingkungan PT Freeport itu, katanya, hanya mengakomodasi kepentingan kontraktor-kontraktor besar milik warga non Papua, sementara pengusaha asli Papua dari Suku Amungme dan Kamoro sama sekali tidak diperhatikan.

"Selama ini Freeport selalu mengatakan memperhatikan orang asli Papua, orang Amungme dan Kamoro. Itu hanya slogan saja atau lip service.Realitanya tidak demikian. Mereka yang pelaksana di bawah, bermain kiri kanan dengan kontraktor-kontraktor besar untuk bisa mendapatkan fee (keuntungan)," kritik Yopi Kilangin.

Menurut dia, penegasan Presiden Joko Widodo agar perusahaan-perusahaan investasi memperhatikan masyarakat lokal dengan melibatkan mereka dalam proyek-proyek yang ada sama sekali tidak berlaku di Freeport.

Akibatnya, warga asli Suku Amungme dan Kamoro tetap hidup miskin di atas kekayaan alam mineral tambang yang mereka miliki.

Sementara kontraktor-kontraktor besar seperti PT Osato Seike, PT Jasti Pravita dan lainnya semakin kaya raya lantaran selalu diberikan proyek dan pekerjaan untuk menopang operasional tambang Freeport.

Yopi menuturkan, pekan lalu salah seorang pengusaha lokal bernama Anton Bugaleng mengamuk saat mengikuti lelang proyek Freeport yang diadakan oleh Departemen Contrac Group.

"Anton mengamuk karena saat itu tidak ada orang asli yang ikut lelang, semuanya orang pendatang. Masa selama 50 tahun Freeport beroperasi tidak mampu untuk mendidik orang-orang asli menjadi pengusaha yang sukses. Ini benar-benar omong kosong. Freeport ini penipu besar, omong kosong," kritik mantan Ketua DPRD Mimika periode 2004-2009 itu.

Ia berharap Presiden Jokowi bersama para menterinya memberi perhatian serius terhadap program pemberdayaan masyarakat lokal yang dilakukan oleh PT Freeport di Mimika, Papua

"Kami berharap Bapak Presiden Jokowi memperhatikan masalah ini sehingga kami tidak menjadi penonton dibalik segala kemegahan yang ada di Freeport ini," pinta Yopi Kilangin.

Ia mengatakan anggaran operasional Freeport di Mimika dalam setahun bisa mencapai puluhan bahkan ratusan triliunan rupiah.

Seharusnya, kata Yopi, dengan anggaran operasional yang sangat besar itu juga bisa dinikmati oleh orang-orang asli Papua, terutama dari warga Suku Amungme dan Kamoro yang berada di sekitar area tambang untuk mengangkat derajat kesejahteraan mereka.

Secara khusus Yopi meminta petinggi Freeport Mc MoRan, selaku perusahaan induk PT Freeport Indonesia yang berada di Amerika Serikat seperti Mc Arnold dan Richard Adkerson agar mengoreksi total staf-staf yang ada dalam Departemen Contrac Group dan Departemen Central Cervice yang selama ini dinilainya menghambat upaya pemberdayaan pengusaha-pengusaha asli Papua.

"Orang-orang yang ada dalam kontrak grup itu harus dikoreksi. Mereka betul-betul hanya bermain dengan orang yang biasa dapat terus. Yang biasa memberikan fee besar itulah yang biasanya selalu diminta untuk ikut lelang. Kebijakan yang semacam begini membuat orang Amungme dan Kamoro tidak akan pernah mampu bersaing dengan orang lain," ujarnya. (tim)

2020 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika