Main Area

pesparawi xiii

Main

Pemprov Sulut Jamin Keamanan Mahasiswa dan Pelajar Mimika

Foto bersama Wabup Mimika, Sekretaris LPMAK dan Forkopimda Profinsi Sulawesi Utara Usai pertemuan di Kantor Gubernur Sulawesi Utara / Tim Tabukanews.com

Manado,TabukaNews.com –  Guna mencari tahu dampak eksodus pelajar dan mahasiswa Timika di kota Studi Sulawesi Utara, Jumat (18/10). Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika bersama Lembaga Masyarakat Adat Amungme dan Kamoro (LPMAK), bertemu dengan Pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Utara, di Kantor Gubernur Sulawesi Utara. 

Wakil Bupati Johannes Rettob bersama ketua Tim Transisi LPMAK Abraham Timang beserta rombongan diterima langsung oleh Asisten I Bagian Pemerintahan dan Kesra Provinsi Sulut, Edison Homian dan Kepala Badan Satuan Polisi Pamong Praja, Steven Evans Liow.

Juga dihadiri,  Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Samratulangi (Unsrat), Dr Roni Gosal dan Rektor Universitas Manado Prof Dr Julyeta Paulina Amelia Runtuwene, bersama sejumlah pimpinan OPD Provinsi Sulawesi utara.

Wakil Bupati Mimika Yohannes Rettob menjelaskan bahwa situasi politik yang bergejolak di Papua saat ini bermula dari isu rasisme di Surabaya, Jawa Timur. Dengan adanya isu tersebut kemudian menjadi isu-isu lain dan memberikan dampak eksodus kepada mahasiswa papua dan lebih khusus mahasiswa dan pelajar di seluruh Indonesia termasuk di Sulawesi Utara untuk kembali ke Papua.

“Berdasarkan data kepolisian 2800 mahasiswa Papua dan Papua Barat sudah kembali. Kami secara khusus pemda Mimika datang untuk mencari tahu penyebab sebenarnya dengan mendatangi anak-anak kami di beberapa kota studi termasuk di Sulawesi Utara,” jelasnya.

Wabup mengatakan, sekitar 300-an mahasiswa dan pelajar Mimika yang melanjutkan studi di Sulawesi Utara, siswa terbanyak sekolah SMP dan SMA di Lokon sementara mahasiswa terbanyak di Universitas Samratulangi dan Universitas Manado. 

Dari jumlah tersebut ada yang dibiayai oleh Lembaga pengembangan Masyarakat Adat Amungme dan kamoro (LPMAK) sementara sebagian merupakan bantuan afirmasi dari  Pemda Mimika dan juga pribadi dari orang tua atau biaya sendiri.

“Kurang lebih disini 300-an anak. sudah banyak yang kembali dari Sulaweisi Utara yang paling banyak padahal kasus ini berawal di Jawa Timur namun anak-anak kami disini juga yang duluan kembali. Kami datang untuk mencari tahu alasan sebenarnya mereka kembali ke Papua,” jelas wabup.

Wabup mengatakan,  ketika anak-anak kembali, mereka menyampaikan bahwa mereka pulang karena ke papua karena rasa tidak nyaman dan intimidasi selama berada di luar Papua, termasuk di Sulawesi Utara.

“Ini terjadi sesudah kasus Surabaya. sebelumnya tidak. yang kedua alasan mereka karena intimidasi. Setelah kami justifikasi bentuk intimidasi seperti apa, mereka tidak bisa berikan penjelasan secara baik sehingga kami harus datang,” ungkapnya.

Wabup menjelaskan, setelah mendatangi beberapa sekolah studi baik di pulau jawa, sulawesi ditemui beberapa alasan bahwa pelajar dan mahasiswa diintimidasi oleh senior mereka.

“Kami bertemu dengan polda di masing-masing wilayah ternyata benar bahwa sesudah kasus Jawa Timur, ada perintah oleh panglima TNI dan Kapolri supaya menjaga dan mendata anak-anak. Tapi karena tidak dikoordinir dengan baik sehinga semua (intel-red) dari beberapa kesatuan datang tanya secara bergantian sehingga membuat mereka ketakutan,” jelasnya.

Lanjut Wabup, “Niat mereka sebenarnya baik, tapi ini hanya miss komunikasi sehingga kemarin kami dan beberapa polda buat kesepakatan bersama. Ada keterwakilan mahasiswa sebagai penghubung dan anggota yang ditunjuk supaya mereka saling kenal. Ada apa-apa mereka saling berhubungan, tidak perlu semua dating ke asrama atau tempat dimana mahasiswa ini berada,” jelasnya.

 

Selanjutnya, Wabup John Rettob beserta rombongan akan melakukan pertemuan dengan mahasiswa dan pelajar Mimika di Manado.

“Kami mohon izin akan melakukan pertemuan dengan mahasiswa dan pelajar, kami datang juga sekaligus untuk menitipkan anak-anak kami disini,” ujarnya.

Dihadapan pemerintah Sulawesi Utara wabup menyampaikan permohonan maaf jika selama mahasiswa dan pelajar yang melaksanakan studi baik di tingkat SMP hingga perguruan tinggi, membuat hal hal yang yang kurang terpuji mhon dimaafkan,

“Tapi kami yakin dan percaya anak-anak kami tidak seperti itu karena mereka baik-baik” Ujar Wabup.

Wabup berharap agar selalu tercipta koordinasi dan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dan Pemda Mimika sehingga kedepan selalu terjalin komunikasi yang baik sehingga ketika ada sesuatu yang tidak semestinya, semua dapat terselesaikan. 

Tanggapan Pemda Sulawesi Utara

Mewakili gubernur dan wakil gubernur, Kepala Badan satuan Polisi Pamung Praja Steven Evans Liow mengatakan pertemuan ini diharapkan membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan sehinga semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan serta membangun peradaban bangsa yang lebih maju di massa yang akan datang.

“sebelum Pemda Mimika dan LPMAK, dua bulan lalu MRP dan DPR Provinsi Papua mendatangi Sulawesi Utara. Pemprov Sulut telah menjelaskan bahwa situasi disini selalu aman dan damai.” Ujarnya. 

Steven juga meyakinkan kepada pemerintah daerah Mimika bahwa di Sulawesi Utara tidak lagi intimidasi. Mungkin hanya perasaan saja. Pernah ada kejadian di Tomohon tapi itu karena pengaruh minuman keras, malah di Sulawesi utara sendiri menjaga dan mengawal para mahasiswa bukan hanya timika namun seluruh papua yang melaksanakan studi disini, supaya jangan ada yang menyusup karena kita semua bersaudara merupakan ciptaan Tuhan yang sama.

 

“Masyarakat Sulawesi Utara sangat peduli dengan masyarakat terutama pelajar dan mahasiswa asal Papua. Masyarakat sangat menerima kehadiran mereka dan hubungan emosional ini sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu.” Ujar Steven.

Lanjut dia, “Malah kami pemerintah dan pihak rektorat (kampus-red) sangat menyesal kenapa mereka pulang. Kita coba bendung tetapi kondisi saat itu tidak bisa. Kita monitor terus perkembangan mereka. Bahkan ibu rektor Unima sampai menangis ketika anak-anaknya pulang ke Papua,” jelasnya.

Pemprov Sumut bersama TNI Polri dan seluruh masyarakat Sulawesi berjanji akan memberikan jaminan keamanan kepada pelajar dan mahasiswa Papua termasuk Mimika. 

“Kami jamin hal ini. Kalau ada apa-apa dengan mereka silahkan ketemu dengan kami. Kita ingin masuk dan lebih dekat tetapi agak sulit. Besok kita mau adakan parade cinta damai dan kami akan libatkan pelajar dan mahasiswa Papua dan Papua Barat,” ungkapnya.

Pemprov Sulut juga ingin mengajak seluruh pelajar dan mahasiswa timika untuk kembali melanjutkan pendidikan dia Sulawesi Utara sampai selesai. Tidak perlu kuatir masalah keamanan disini. 

Sementara itu, Direktur Intelkam Polda Sulawesi Utara, Kombes Pol Budi Herwanto menambahkan berdasarkan data kepolisian ada 2.296 mahasiswa Papua dan Papua Barat yang mengenyam pendidikan di 15 universitas di Sulawesi Utara.

“Yang sudah kembali ke Papua dari universitas ada 500-an sementara sekolah ada 97 anak di Lokon, anak-anak Papua dan Papua Barat tidak pernah ada yang kena kasus pidana. Kadang-kadang karena minuman tetapi tidak sampai masuk ke rana kepolisian,” ungkap pria yang selama tiga tahun menjabat sebagai Dirut intel ini.

Namun Dirinya menyayangkan beberapa waktu lalu di salah satu asrama anak-anak Papua terpampang baliho dengan tulisan ini konsulat KNPB.  

 

“Yang pasang itu anak-anak yang punya otak KNPB. Tetapi kita minta mereka turunkan dengan baik karena bicara konsulat itu bicara tentang negara,” tegasnya.

Ia juga mengatakan bahwa pada prinsipnya, pihaknya sedikitpun tidak melakukan intimidasi (menakuti dan membuntuti-red) pelajar maupun mahasiswa asal Papua dan Papua Barat termasuk asal Mimika.

“Tugas kami menjaga mereka dan kami bahkan sudah lakukan deklarasi menjamin keamanan mereka di Sulawesi Utara. Tolong sampaikan kepada adek-adek kami di Mimika untuk kembali melanjutkan pendidikan untuk masa depan mereka,” harapnya.

Kegiatan pemerintah daerah Kabupaten Mimika merupakan perjalanan Road Show  bersama LPMAK untuk memberikan jaminan rasa aman dan menitipkan pelajar serta mahasiswa kepada pemerintah provinsi dan kepolisian baik di tanah Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta dan Jawa Barat, bahkan di Manado Sulawesi Utara. (tim)

 

2020 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika