Main Area

pesparawi xiii
HUT Republik Indonesia Ke 75

Main

PARIWARA : Johannes Rettob, Figur Berintegritas

Johanes Rettob / Foto : Dok - Tabukanews.com

 

TIMIKA, TABUKANews.com - Pintar, berintegritas, supel dan berwibawa merupakan karakter bawaan seorang Johanes Rettob. Pria yang dipercayakan Bupati Mimika Eltinus Omaleng sebagai Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Mimika itu memiliki rekam jejak karir yang membanggakan. Dia dikenal sebagai sosok inspiratif, diterima semua suku dan agama menjadikan Bapak John sapaan akrabnya mudah bergaul dengan siapa saja.

Tidak heran jika banyak warga lintas suku memintanya mendampingi Bupati Eltinus Omaleng menahkodai Kabupaten Mimika lima tahun kedepan sebagai wakil bupati. Meskipun awalnya terasa berat, namun demi tugas pengabdian yang diwariskan leluhur dan orang tua, dia akhirnya bersedia menerima.

Tidak hanya tinggal di Kabupaten Mimika, ternyata Bapak John Rettob memiliki garis keturunan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk perubahan Mimika.

‘Jasmerah’ Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itulah ungkapan yang tepat untuk generasi suku Kamoro saat ini tentang kisah masa lalu, tentang sejarah hingga warga Kamoro bisa terlepas dari belenggu keterbelakangan dibidang pendidikan dan agama.

Sesuai catatan sejarah Gereja Katolik Papua, tahun 1920-an Gereja Katolik Keuskupan Amboina yang juga melingkupi daerah Papua dan sekitarnya, memiliki misi khusus untuk terang bagi wilayah dataran Papua, terutama di daratan wilayah pesisir selatan. Melalui Mgr. Yohanes Arts, orang-orang muda dari Kepulauan Kei diutus gereja untuk membawa terang ke Tanah Papua. Secara bertahap 75 orang diutus saat itu untuk menyebarkan Agama Katolik, menjadi guru dan tukang bangunan. Salah satu diantara 75 orang yang diutus ke Papua, Kokonao (Distrik Mimika Barat saat ini) adalah orang tua dari Johny Ipiri, panggilan kecil John Rettob. Tahun 1928 kakek John Rettob, Alexander Rettob dan isterinya Everesta Mariasyembun dari Desa Faan, Pulau Kei Kecil diutus untuk menjadi guru di Kokonao bersama beberapa rekannya yang lain.

Selepas itu, beberapa tahun kemudian menyusul lagi saudara Alexander bernama Tobias Rettob. Ia awalnya merupakan juru mudi motor laut yang selalu mengantarkan orang-orang yang diutus ke kokonao. Namun awal kedatangan ke Papua, ia memilih mengabdi di Merauke. Tepatnya tahun 1941, Mgr Uskup Yohanes Aerts mengutus orang tua John Rettob ke Kokonao. Caspar Rettob (21) dan Fransina Kebubun (20) saat itu terbilang masih sangat muda. Mereka diutus khusus menjadi guru. Awal bertugas, ayah Johny Ipiri melakukan tugas perdana di Kekwa sebagai kepala sekolah. Setelah mengajar beberapa tahun, aktifitas belajar mengajar di daerah ini sempat terhenti akibat Perang Dunia ke II. Selanjutnya Caspar Rettob ditugaskan ke Kokonao, menjadi guru di Sekolah Rakyat (SR) Dorp School dan kepala asrama bagi anak-anak Kei dan Komoro.

Dari Kokonao, Caspar Rettob kemudian ditugaskan ke kampung Amar, Pronggo, Iwaka, Kaugapu, Ipaya dan pensiun tahun 1975 di sana. Caspar Rettob kemudian hijrah ke kokonao hingga meninggal tahun 1990. Sementara ibunya Fransina Kebubun meninggal di Timika tahun 2003. Saat masih mengabdi, Caspar Rettob dikenal dengan panggilan Guru Ipiri. Selama di Papua, ia dan keluarganya hanya sekali kembali ke pulau Kei. Dalam menjalankan tugas di Mimika (saat ini) John Rettob bersama 10 saudaranya lahir. Mereka ada empat laki-laki dan 7 perempuan. Saat ini semuanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan hanya satu bekerja sebagai wartawan senior di Media Kompas Indonesia.

Kini hampir semuanya mengabdi di Papua dan Papua Barat. Kota Timika, Sorong, Merauke, Biak, Jayapura dan beberapa daerah lainnya. Keluarga ini juga mengadopsi perkawinan campuran dengan berbagai suku lainnya. Mereka menikah dengan suku dari Kalimantan, Toraja, Bugis, Serui, Tionghoa, Batak, Fak-Fak, Tanimbar, Manado dan Jawa. Hanya empat orang yang kembali menemukan jodohnya dengan orang kei. Hasil karya nyata dari orangtua John Rettob bersama 74 utusan lainnya dari Kei, sangat terasa hingga saat ini. Semua orang mengetahui dan memahaminya. Berbagai karya, karsa dan cipta menjadi awal dan ukuran bagi Mimika untuk berkembang hingga saat ini.

Setelah fase awal kedatangan 75 guru, pembawa agama dan tukang bangunan sangat memberikan dampak bagi perkembangan masyarakat. Karya nyata mereka yang paling kental saat itu adalah banyak bermunculan guru-guru asal Suku Komoro yang bertugas di seluruh Papua. Mereka kemudian tersebar ke Merauke, Tanah Merah, Bovendigul, Asmat, Mapi, Aiwasi, Arso, Kaimana, Fak-fak, Paniai hingga wilayah pedalaman Papua lainnya. Selain menjadi guru, mereka juga melanjutkan karya keselamatan dan kerasulan sebagai pembawa agama.

Semakin hari, Papua kini berkembang dan menjadi berkat bagi banyak orang dari berbagai suku bangsa. Semua orang mungkin berkarya di tanah ini dengan versi dan ceritanya masing-masing, namun kisah kedatangan kedua orangtuanya yakni Bapak Caspar Rettob dan Fransina Kebubun, menjadi inspirasi bagi Johny Ipiri (John Rettob) untuk mengikuti jejak langka luhur ini untuk membangun dan mengabdikan diri serta berkarya bagi Mimika ke depan. (tim)

2020 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika