Main Area

Main

MUI Bantah Pernyataan Kepala Kesbangpolinmas Terkait Kelompok Radikal di Tiga Wilayah di Timika

Ketua MUI Ustad Amin, S. ag / foto : Dok Tabukanews.com

TIMIKA, TABUKANews.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mimika Ustad Amin, S, ag membantah pernyataan Kepala Kesatuan Bangsa dan Berpolitik (Kesbangpol) Kabupaten Mimika Petrus Lewakoten terkait tiga wilayah yang menjadi pantauan adanya organisasi Islam yang perlu diwaspadai.

"Yah namanya pemberitaan ini bisa benar bisa tidak terkait tiga wilayah yang harus di waspadai terutama (SP-SP, Gorong-gorong dan didepan PLN)," kata Amin saat ditemui wartawan usai buka puasa bersama di Koramil kota, Jumat (25/5).

Ia menjelaskan, pernyataan yang dikeluarkan oleh kepala Kesbangpol perlu di sertakan dengan data dan bukti yang akurat, dan tidak sekedar memberikan pernyataan yang menjadi kontroversi di tengah masyarakat yang mendiskreditkan umat Muslim di Mimika.

Pasca penangkapan terduga teroris di SP5. Tim MUI yang beranggotakan sembilan orang telah diturunkan selama tiga bulan kedepan untuk melakukan investigasi terkait keberadaan Islam radikal di Timika, sama halnya seperti investasi yang dilakukan terhadap kelompok gavatar beberapa tahun lalu.

"Kalau misalnya benar harus didukung oleh data yang jelas, kalau tidak benar berarti itu harus diklarifikasi, karena tim MUI yang berjumlah sembilan orang juga sementara bekerja sejak penangkapan teroris di SP 5 mereka bekerja seperti penangkapan gavatar kemarin waktu 2014 dan saya aktifkan kembali dan bekerja selama 3 bulan," jelasnya.

Ia mengungkapkan, jangan menstigma orang yang menggunakan songko, dan perawakan berjenggot lebat serta menggunakan celana cingkrang sebagai seorang teroris, sebab ada kelompok umat muslim bernama tabliq yang berpenampilan seperti itu yang yang sering berpindah-pindah mesjid untuk beribadah dan tidak ada kepentingan apapun.

"Jangan kita menstigma orang jenggot lebat pakai songko kemudian pakai celana cingkrang itu teroris. Karena ada kelompok atau komunitas umat Islam ini yang berpindah dari satu mesjid ke mesjid yang lain itu yang dinamakan jamaah tabliq yang jauh dari kepentingan," ungkapnya.

Setiap orang harus jelih melihat dan membedakan penampilan dan aktivitas sehari-hari, sehingga tidak sekedar mengeluarkan pernyataan kontroversi yang nantinya akan menimbulkan perpecahan dikalangan anak bangsa.

"Jadi kita harus jelih melihat dan jangan sekedar menyampaikan tanpa didukung oleh bukti karena akan menyulut perpecahan di kalangan anak bangsa sendiri," katanya.

Sementara itu terkait langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh MUI. Kata ustad, sejauh ini pihaknya sudah menyampaikan hal tersebut kepada umat muslim agar mewaspadai kelompok radikal dan  menghimbau kepada seluruh mesjid dan seluruh yayasan agar memberikan pelajaran terkait Islam moderat kepada jemaah dan bukan Islam radikal.

"Kita lakukan itu kita sudah himbau di semua mesjid-mesjid dan yayasan-yayasan Islam sebanyak 21 yayasan juga kita sudah sampaikan agar memberikan pelajaran muatan yang Islam moderat bukan Islam radikal," ungkapnya. (tim)

2019 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika