Main Area

pesparawi xiii

Main

Kurang Perhatian Pemda, Asrama Mahasiswa Mimika di Bandung Terancam Tutup

Kurang Perhatian Pemda, Asrama Mahasiswa Mimika di Bandung Terancam Tutup/Foto : Istimewa

Timika.Tabuka News.com - Asrama Harapan Bangsa atau lebih dikenal dengan Asrama Komunitas Mahasiswa Timika (KOMATI) di Jalan Inhoftank, Kecamatan Astana Anyar, Kabupaten Bandung ternyata sudah tidak ada penghuni lagi karena seluruh mahasiswa sudah kembali ke Timika.

Sekitar 30 mahasiswa asal Mimika yang selama ini tinggal di asrama tersebut, 29  sudah kembali ke Timika hanya tersisa satu mahasiswa yakni Iseli Magal yang juga merupakan kepala asrama.

 “Semua sudah pulang jadi asrama ini ditutup dulu untuk sementara karena kosong. Kalau mereka balik baru saya buka. Saya juga mau pulang tetapi saya dengar tim LPMAK dan pemda mau datang jadi saya tunggu sampai mereka datang. Saya sudah dengar kemarin mereka ke Jateng dan sekarang di Jatim,” ujarnya melalui telepon, Minggu (28/9) pagi.

Asrama Komati dibeli Pemda Mimika pada 2008. Gedung 3 lantai ini memiliki 20 kamar dan 8 MCK. Lantai I memiliki 4 kamar dengan 2 MCK,  Lantai II miliki 8 kamar dengan 3 mck. Sementara lantai III sebanyak 8 kamar dengan 3 MCK .

“Mereka mulai pulang sejak tanggal 16 Agustus akibat peristiwa rasisme di Surabaya dan sekitarnya. Sebelumnya di asrama ini ada 30 orang tambah saya. Awalnya asrama cowok tetapi kesini-sini cewek juga gabung. Ada 15 laki-laki dan 5 perempuan,” ujarnya.

Dikatakan, dari jumlah tersebut sebagian besar mengenyam pendidikan di Universitas Langlabuana Bandung. Selain itu Ilmu Kesehatan Emanuel dan ST Inten. Iseli Magal sendiri merupakan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Arsitek, semester III angkatan 2018.

“Saya juga mau pulang karena kemarin saya ambil cuti. Habis cuti baru saya balik lagi. Saya sudah buat surat penitipan gedung ini ke ibu RT,” ujarnya.

Selain di Astana Anyar, sebagian anak-anak Mimika juga tinggal di Jatinangor. Berdasarkan data IPMAMI, di bandung ada 124 mahasiswa. 65 dibiayai LPMAK sementara sisanya dibiayai orangtua atau keluarga masing-masing. Ada yang tinggal di asrama, ada yang di kos kosan.

“Yang di asrama pemda tidak ada bantuan beasiswa, mereka orangtua yang biayai. Hanya saya yang dapat beasiswa LPMAK sementara teman satu dia dapat bantuan dari Freeport. Cuma LPMAK saja yang beri beasiswa untuk 65 orang yang baru datang,” ungkapnya.

Menjelaskan, sejak diangkat ketua asrama pada Februari lalu, ia mengakui bahwa Pemda Mimika kurang memberikan perhatian kepada mereka. 

Dalam setahun mereka hanya menerima Rp 60 juta dari Pemda Mimika. Rp 30 juta untuk asrama Astana Anyar, Rp 15 juta untuk di Jatinangor. Dana tersebut diakuinya tidak bisa membackup keperluan mereka selama setahun berjalan.

 “Maret kemarin saya terima 15 juta, awalnya biasa 30 juta tetapi dibagi dua dengan di Jatinangor. Uang itu kami pakai untuk beli mesin air 3 juta, ulang tahun asrama 2 juta, beli antena tv, bola lampu, sisanya kami beli beras dan kebutuhan tambahan disini,” jelasnya.

Dirinya juga menilai selama ini tidak ada perhatian gedung asrama tidak ada, hanya uang operasional saja. Pemda mimika tidak pernah hubungi mahasiswa atau dating mengecek kondisi mahasiswa asli timika di asrama tersebut setelah ada masalah baru semua bingung dan berloba lomba datangi asrama mahasiswa.

Ia berharap dengan kondisi tersebut, Pemda Mimika dan LPMAK segera mengunjungi Jawa Barat agar melihat secara langsung persoalan-persoalan yang mereka alami saat ini.

“Jangan hanya Jawa Tengah dan Jawa Timur saja. Jawa Barat juga karena kita semua anak-anak Mimika. Dampak masalah rasisme kemarin itu berdampak juga sampai disini, itulah mengapa anak-anak pulang. Kami yang masih disini akan tunggu sampai mereka datang,” terangnya. (tim)

2020 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika