Main Area

pesparawi xiii
ulang tahun ke 36

Main

Komisi B Tinjau Penimbangan Konsentrat Freeport di Porsite

Kunjungan Komisi B DPRD Mimika ke Lokasi Tera Bahan Konsentart milik PT FI  di Porsite Amamapare, Selasa (2/7)/ Foto : Tim

TIMIKA Tabukanews- Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Mimika meninjau tempat Penimbangan (Tera) Konsentrat atau Dewatering Plant (DWP) milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Pelabuhan Porsite Amamapare distrik Mimika Timur Jauh Selasa, (2/7).

Rombongan anggota Komisi B DPRD Kabupaten Mimika yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi B, Yohanis Felix Helyanan,SE, Muhammad Nurman S Karupukaro, Viktor Kabey, Den B Hagabal, Anthonius Kemong, Oktovianus Beanal dan Yoel Yolemal dan Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mimika juga mendapatkan penjelasan proses pengeringan hingga pengapalan (loading)  konsentrat Frepoort.

"Tugas kami disini adalah bertanggungjawaj untuk mengeringkan konsentrat tambang yang dikirim dari 74 berupa bubuk yang masih ada kandungan airnya 35 persen dan kami proses untuk menurunkan dari 35 persen sampai 9 persen itulah yang kami tampung di tiga gudang yang ada disini," kata  salah seorang yang bertanggungjawab penuh terhadap engelola Pengeringan PT FI, Ahmadsyah.

Bahwa proses pengeringan konsentrat itu dengan cara melakukan peras (presure) atau dengan cara memanaskan dengan bahan bakar.

"Memanaskan konsentrat tersebut dengan dua proses yaitu, proses vakum yang tersisa 15 persen dan kemudian diisap airnya dan menjadi 9 persen selanjutnya kami menyimpan di tiga gudang yang tersedia untuk siap dikapalkan,"jelasnya.

Setelah disimpan di gudang dan sebelum dilakukan pemuatan bahan konsnetrat yang tinggal 9 persen tersebut akan melalui timbangan (ramsey) yang terhitung berapa volume dan tonasenya konsentrat tersebut.

Sementara itu Supertenden Loading Operasion PT Freeport Indonesia Nataniel Asso  menjelaskan bahwa timbangan konsentrat yang dipakai saat ini menggunakan timbangan Ramsey yang mampu mengeluarkan signal atau angka konsentrat.

"Ramsey akan tampilakn rekam semua jumlah atau berapa volume konsentrat yang akan di muat dan kita diyakinkan dengan segel dari Diseprindag paling dalam dan  segel dari Bea Cukai ada paling luar. Dan kami yakin dengan alat tera tersebut apalagi sampel tersebut dilakukan oleh PT Sucofindo yang indpenden dan yang dipercayakan oleh pemerintah. Sehingga tera ini tidak bisa ada permainan dan ini yang bisa datang buka segel adalah Disperindag dan Bea Cukai,"terang Asso.

Piter Wowor dari Departemen Export Impor (Exim) PT Freeport Indonesia mengatakan bahwa SKA itu adalah Surat Keterangan Asal pengiriman konsentrat yang dikeluarkan dari asal konsentrat tersebut dan itu hanya berlaku bagi negara yang membutuhkan keringanan.

Kepala Bidang Perdagangan DInas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kabupaten Mimika Libert Yan Manggara,SE, M.Si bahwa tahun lalu setelah kewenangan untuk mengeluarkan SKA kami tanda tangan, kita punya penerimaan negara bukan pajak melalui konsentrat dari Januari - Desember, itu Rp 4.194 triliun.

"Jadi yang kami tidak tahu teknisnya adalah ke Gresik, itu Bea Cukai yang tahu. Biaya yang dipungut negara kami tidak tahu. Hanya yang ekspor ini yang melalui pemberitahuan ekspor barang itu nilainya tercantum. Kita dapat laporan jumlahnya, tapi perhitungan misalnya nilai yang harus bayar ke negara berapa itu kami tidak tahu. Apabila ada gangguan itu manajemen menyurat melalui Govrel kepada Disperindag, lalu bidang meteorologi datang untuk membuka timbangannya diuji lagi baru disegel kembali,"jelas Libert.

Ia menjelaskan bahwa proses penandatanganan SKA itu butuh waktu cukup lama, karena baru pada tahun 2018 kami mendapat kewenangan dari Kementerian Perdagangan untuk menandatangani SKA.

Bahw Sucofindo melakukan pengujian kadar masing-masing mineral, baik emas, tembaga dan perak. Standarnya di atas 15 persen kandungan emasnya diijinkan untuk diekspor. Hal ini sangat teknis karena  menyangkut perhitungan berapa ton.

Mewakili Komisi B DPRD Mimika, Muhammad Nurman S Karupukaro mengatakan kunjungan ke area pengeringan konsentrat dan pengapalan sangatlah bermanfaat karena dewan bisa mengetahui berapa jumlah export bahan konsentrat dan kadar kandungannya karena kewenangan ini sudah menjadi tugas Disperindag Mimika.

"Melalui Disperindag yang mendapatkan kewenangan mengeluarkan SKA, kami dewan dapat kontrol jumlah konsentrat yang keluar. Soal berapa besar export yang dikirim keluar oelh Freeport sangat jelas diketahui karena dibawah pengawasan Bea Cukai dan Disperindag. Sehingga kalau ada anggapan bahwa pengiriman konsentrat itu tidak dikontrol adalah tidak benar karena semua melalui sebuah proses yang sangat ketat,"tegas Nurman.

Rombongan Komisi B mengunjungi beberapa fasilitas atau peralatan pendukung dalam proses pengeringan konsertrat yang ada di area Porsite. (tim) 

2020 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika