Ijin Helikopter dan Pesawat Berakhir, Dishub Diminta Segera Cari Operator Baru

Ijin Helikopter dan Pesawat Berakhir, Dishub Diminta Segera Cari Operator Baru

Timika,TabukaNews.com

Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Mimika diminta segera mencari operator pengganti yang mengoperasikan pesawat grand caravan yang sejak 22 September 2021 lalu dikembalikan maskapai PT Asian One Air kepada Pemda Mimika.

Selain itu, Dishub juga diharapkan segera mencari operator yang mengurus kelanjutan ijin operasi helikopter milik Pemda Mimika yang ijinnya akan berakhir Juni 2022 mendatang. Sebab, jika kontrak helikopter tersebut tidak dilanjutkan Asian One Air, operator baru wajib melakukan pengurusan dari pabrik hingga impor ke Indonesia.

Selain itu, jika tidak segera diurus, maka pesawat Pemda Mimika yang kini sudah ditumbuhi lumut akan hancur, nasib yang sama juga bakal menimpa helikopter.

Sementara menyangkut tuduhan pesawat dan helikopter bekas, Pemda Mimika dipersilahkan mengecek nomor registrasi. Bahayanya, tuduhan itu terancam digugat pihak Cesna dan Airbus.

Mantan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Mimika yang kini menjabat Wakil Bupati, Johannes Rettob dalam konfrensi pers di kediamannya, Senin (4/4) mengemukakan, saat perencanaan pembelian pesawat dan helikopter, dirinya masih menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Perhubungan Udara pada Dishub Mimika.

Dikatakan, dalam APBD Tahun Anggaran 2015, tercantum Pemda Mimika menganggarkan pembelian 1 unit helikopter merk bell dengan harga Rp 85 miliar, serta pesawat fixed wing.

"Waktu itu Pak Hizkia Simbiak sebagai Kadis Perhubungan. Saya bilang kita tidak bisa beli yang sudah ada merk, Bell itu bermacam-macam, ada seri 412, 407 sampai yang besar. Saya juga tanya ke pa Bupati (Eltinus Omaleng) apa tujuan beli pesawat dan helicopter, beliau jawab untuk angkut penumpang ke daerah-daerah terisolasi," ujar Wabup JR.

Bupati menghendaki tipe pesawat super puma, namun anggaran yang disediakan terlalu kecil, sebab harga super puma Rp 300 miliar.

"Akhirnya melalui pertimbangan kami lakukan kajian teknis pesawat apa yang cocok. Pikir purna jualnya gampang, karakteristik gampang, pilot, sparepart, engineer gampang.
Beberapa pilihan untuk fixed wing, kita putuskan grand caravan," ujarnya.

Begitupula, atas pertimbangan harga dan sparepart, akhirnya diputuskan pembelian helicopter jenis airbus 125 dengan kapasitas 5 seat, versi terbaru kala itu.

"Kalau dibilang bekas tidak mungkin, karena yang kita beli versi terbaru saat itu. Bahkan saya dan pak bupati yang pulang pergi cek selama perakitan di Malaysia dan Singapura," paparnya.

Setelah melalui proses pengurusan administrasi yang sangat rumit, akhirnya proses pembelian dilakukan.

Untuk pesawat Cesna Grand Caravan pembelian dilakukan di Wichita Amerika.

"Kalau Pemda yang beli kita kena PPnBM sebesar 67,5 persen dari harga pesawat, padahal uang kita hanya Rp 85 miliar tidak cukup. Akhirnya kita kerjasama operator penerbangan. Kami bingung karena sudah tawar kemana-mana semua menolak. Kita gandeng Asian One Air," ujarnya.


Untuk grand caravan pembayaran dilakukan 21 November 2015, harga saat itu 2,2 juta dollar AS ditambah pengurusan administrasi 2,5 juta dollar AS.

Sementara untuk helikopter buatan Prancis dengan lokasi pabrik di Jerman. Ketika itu dirinya berkomunikasi dengan perusahaan tersebut.

"Mereka cari seluruh dunia yang tercepat bisa masuk Indonesia dimana, akhirnya dapat Malaysia. Hanya saja di Malaysia dia punya jatah satu unit Heli yang sebenarnya bukan untuk Pemda Mimika, harusnya helikoper itu ke Vietnam. Saya diminta airbus Malayasia, Prancis, Jerman dan Indonesia kami rapat di Jakarta. Saat pertemuan itu saya minta heli yang mau dikirim ke Vietnam itu kasih ke kita," bebernya.

Akhirnya disepakati helikopter tersebut diproduk untuk Mimika.
"Sparepart heli dikirim dari Jerman baru rakit di Malasyia. Waktu dirakit dan tes, saya dan pak bupati selalu datang, lihat di Singapura untuk Cesna dan Malaysia untuk heli. Jadi pak bupati tahu proses pembuatan pesawat ini dari awal, bukan bekas," bebernya.

Dijelaskan, pesawat cesna selesai dirakit September 2015. Akhirnya pesawat didatangkan dari Wichita Amerika ke Singapura menggunakan Ranger Flayer. Registrasi pesawat dari pabrik masih Ranger Flayer, tiba di Singapura baru pindah ke Asian One Air.

"Begitu proses beacukai masuk, maka dikeluarlah SKB supaya bisa masuk Indonesia. Tata cara impor barang bekas dan barang baru beda divisinya di inspektorat Bea Cukai. Kita punya prosesnya di divisi barang baru. Pesawat tiba di Timika Maret 2016 dijemput langsung oleh pak bupati," tandasnya.

Sedangkan helikopter masuk Indonesia dari Malasyia melalui titik terdekat yakni Pakan Baru.

"Waktu itu ada persoalan keterlambatan kepengurusan. Ada aturan baru proses impor dibatasi impor sementara. Perijinan sangat kompleks. Helikopter dikasih ijin impor sementara, diperpanjang setiap beberapa tahun. Kita dikasih ijin impor sementara karena pesawat ini milik kabupaten, bukan operator penerbangan," tuturnya.

Menanggapi adanya anggapan perijinan bisa diurus tingkat kabupaten atau provinsi, hanya dijawab tertawa Wabup JR. "Ini antar negara, harus Bea Cukai Impor," tandasnya.

Dikatakan, tiba di Mimika disepakati menggunakan tatacara kelola barang milik daerah.

"Untuk dua pesawat ini pakai sistem sewa supaya mudah atur. Operator harus bayar ke Pemda Mimika 1 jam untuk pesawat Rp 10 juta, sedangkan helikopter Rp 12 juta per jam," ujarnya.

Namun, sejak 22 September 2021 lalu PT Asian One Air sudah mengembalikan pesawat grand caravan ke Pemda Mimika. Nomor registrasi pesawat tersebut sudah dicabut.

"Sekarang pesawat berlumut di hanggar, silahkan Dishub proses lagi dari pabrik karena aturan memang begitu, Pemda harus bayar PPnBM sebesar 67,5 persen dari harga pesawat. Mirip beli baru. Kalau tidak pesawat akan hancur, sebelum operasipun harus dimaintenance lagi," ujarnya.

Begitupula soal helikopter karena ijin impor sementara jadi helikopter dibawah keluar negeri lalu mengurus perijinan bea masuk impor.

"Ijin berakhir sampai Juni 2022. Selama waktu ini Pemda harus segera urus, proses memakan waktu enam bulan. Sekarang Perhubungan lagi bingung," tukasnya.

Menurut Wabup JR, tudingan pesawat dan helikopter tersebut adalah bekas sudah sampai di Cesna Amerika dan Airbus. "Kita lihat saja kedepan apakah mereka mempidanakan atau mensomasi tudingan ini. Mereka perusahaan bonafit kelas internasional, pasti tidak terima dengan tuduhan ini," bebernya.(**)

Idul Fitri 1 Syawal 1443 H

dprd kabupaten mimika
keluarga johannes rettob
bpkad kabupaten mimika
kesbangpol kabupaten mimika
perhubungan kabupaten mimika
dprd kabupaten mimika
tanaman pangan kabupaten mimika
pendapatan daerah kabupaten mimika
tp-pkk kabupaten mimika
kampung nawaripi

Tentang Kami

Memberikan informasi yang benar karena kami Berpihak Pada Kebenaran yang Jernihnya Nyata