Gereja Katolik St Petrus Gelar Misa Inkulturasi Budaya Amungme Kamoro

Gereja Katolik St Petrus Gelar Misa Inkulturasi Budaya Amungme Kamoro

TIMIKA, TABUKANews.com - Gereja Katolik Santo (St) Petrus Kelurahan Karang Senang SP3, Distrik Kuala Kencana menggelar ibadah misa Inkulturasi dengan menampilkan budaya khas suku asli masyarakat Kabupaten Mimka yakni Amungme dan Kamoro, Minggu (12/8).

 

Kegiatan Misa Inkulturasi yang diikuti ratusan jemaat, dipimpin Pastor Paroki St Petrus SP3, Paulus Dodot SCJ. Pada pelaksanaan misa, dari awal hingga akhir menggunakan bahasan adat Amungme dan Kamoro. Namun sebelum pelaksanaan misa, diawali dengan pengarakan patung Bunda Maria, dari Rumah Pastoran ke dalam gereja dengan iringan tarian adat.

 

Misa Inkulturasi sendiri, merupakan ibadah yang dilakukan umat Katolik dengan kombinasi kebudayaan daerah tertentu, tanpa menghilangkan susunan tata peribadatan. Dalam gereja Katolik, terkadang ada Misa Inkulturasi Jawa, Mee, Amungme, Kamoro, dan masih banyak suku Indonesia lainnya.

 

Selain pelaksanaan Misa Inkuluturasi, panitia juga menggelar beberapa kegiatan, yakni buka tikar, bakar batu, pangkur sagu, lelang makanan, sampai pada bazar.

 

Pastor Paroki St Petrus SP3, Paulus Dodot SCJ mengatakan, konteks Misa Inkulturasi untuk menjawab berbagai isu nasional yang sempat marak, seperti menyangkut NKRI dan Kebhineka Tunggal Ika. Isu ini terjadi, karena Indonesia memiliki keberagaman agama, suku, adat dan budaya. Dan isu itu mulai kencang, pada saat Pilkada DKI. 

 

“Karena keberagaman Indonesia inilah, kami dari Paroki mencoba menjawab hal tersebut. Dan ini sebagai bentuk keprihatinan dari Gereja Katolik, sekaligus untuk meminimalisir isu yang ada,” kata Pastor Dodot.

 

Kata dia, selain itu di 2018 ini merupakan tahun budaya bagi gereja. Karenanya, Paroki mencoba untuk mengkreasikan, bagaimana dalam perayaan Ekaristi bisa mengakomodir ke originalitasan dari budaya beberapa suku.

 

Lanjutnya, karenanya mulai dari awal perarakan lagu pembukaan sampai akhir menggunakan Bahasa Suku Amungme dan Kamoro. Dan bukan itu, ditampilkan juga budaya kedua suku dalam sebuah tari-tarian lengkap dengan pakaian adatnya.

 

“Seperti saat ini, setelah ibadah kami tampilkan budaya asli Amor, seperti pangkur sagu, bakar batu, dan lainnya. Ini kami tampilkan, karena tidak semua orang tahu itu. Dan bisa dibilang ini, tidak hanya bicara keberagaman budaya, tapi juga menyangkut soal edukasi kepada masyarakat. Sehingga anak-anak jadi paham akan buday yang ada,” ujarnya.

 

Pastor Dodot menambahkan, budaya adalah ikatan primodial. Dimana pertama kali manusia lahir, yang dikenal adalah budaya. Sehingga kita dikemas dalam perayaan ekaristi, yang diinisiasikan dalam sakramen baptis. Dan itu disinergikan dalam perayaan yang agung dan kudus.

 

“Identitas kesukuan tidak dihilangkan, tapi dikemas dalam perayaan ekaristi. Yang menurut Gereja Katolik hal itu menjadi sumber hidup beriman,” ujarnya.

 

Sementara Ketua Panitia Misa Inkulturasi, Kanisius Weyau mengatakan, Misa Inkulturasi ini sudah dilaksanakan sejak Januari hingga sekarang, dan akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Misa inkulturasi ini ada keterlibatan dari semua suku.

 

“Karena bertepatan dengan hari kemerdekaan, maka kita satukan menjadi satu kekuatan untuk membangun iman. Agar para umat ini lebih mendekatkan diri kepada Tuhan,” ujarnya. (mjr/TB).

Idul Fitri 1 Syawal 1443 H

dprd kabupaten mimika
keluarga johannes rettob
bpkad kabupaten mimika
kesbangpol kabupaten mimika
perhubungan kabupaten mimika
dprd kabupaten mimika
tanaman pangan kabupaten mimika
pendapatan daerah kabupaten mimika
tp-pkk kabupaten mimika
kampung nawaripi

Tentang Kami

Memberikan informasi yang benar karena kami Berpihak Pada Kebenaran yang Jernihnya Nyata