Main Area

Main

Biaya Cargo Penerbangan Mahal, Pengusaha Sulit Bersaing

Kegiatan Focus Group Discussion Peningakatan Potensi Ekspor Di Kabupaten Mimika di Hotel Horizon, SelasA (24/9) /Foto: Tim Tabukanews. com

TIMIKA, Tabukanews. com - Mahalnya biaya cargo maskapai penerbangan di Timika menyebabkan sulitnya ekspor ikan, karaka dan udang ke luar negeri.

Akibat mahalnya cargo pesawat udara tersebut membuat pengusaha yang bergerak di dunia usaha prodak non tambang sulit untuk bersaing. 

Selain itu dampak ini juga menyebabkan prodak asli Timika tidak bisa bersaing di kanca nasional ataupun internasional.

"Sekarang sisah Garuda yang masuk Timika. Coba saja kalau ada Batik dan Lion Air bisa masuk pasti ada penurunan harga biaya cargo," ungkap Penanggungjawab Satuan pengawasan PSDKP KKP Mimika, Haryadi saat hadiri 

Focus Group Discussion Peningakatan Potensi Ekspor di Kabupaten Mimika dan Lounching Klinik Ekspor Pace

Kantor Bea dan Cukai Amamapare, di Hotel Horison, Selasa (24/9).

Haryadi mengatakan, biaya kargo ini telah terjadi sejak tahun 2016. Bahkan di tahun 2016 itu tergolong jauh lebih murah jika dibandingkan tahun 2017, 2018 termasuk tahun 2019. 

Karena itu, prodak asal Timika khususnya ikan, kepiting dan udang tidak bisa diekspor ke luar negeri. Meskipun diekspor ke luar negeri, tetapi tetap melalui Denpasar, Surabaya dan Jakarta sehingga lebelnya tidak lagi menggunakan nama Timika.

"Kepiting pernah diekspor ke Singapura dan Malaysia, tapi sejak tahun 2016 karena harga cargo naik makanya terhenti. Sekarang baru kita upayakan lagi. Kasihan sekali kalau lebel kita dipakai oleh daerah lain karena kita jadi rugi," katanya.

Pengiriman ikan menurut dia, selalu dalam kondisi fresh. Sedangkan untuk kepiting dalam kondisi hidup sehingga perlu cepat proses pengirimannya. Namun saat ini semua pengusaha telah berhenti mengirim karena biaya cargo yang mahal.

Ia menjelaskan bahwa ada satu kesulitan yang juga dialami oleh pengusaha eksportir di Timika. Dimana, biaya pengiriman Timika ke Jakarta dikenai biaya Rp 41 ribu per kilo gram. Sedangkan ketika ekspor dari Timika ke Malausia biaya cargo hanua Rp 30 ribu.

"Kalau begitu jadinya aneh. Masa biaya kirim ke tempat yang jauh lebih murah? Sedangkan dalam wilayah indonesia saja biayanya mahal. Itu berarti tidak benar dan aneh karena penerbangan itu hitung jarak," jelasnya.

Karena itu, diharapkan agar Pemkab Mimika bisa bekerja sama dengan maskapai penerbangan lain tanpa harus mengharapkan satu maskapai saja. Sebagai contoh, jika ada Batik Air dari Timika ke Jakarta maka sampai Jakarta akan disambung dengan Malindo air ke Malaysia. 

"Pengusaha eksportir di Mimika ini sangat banyak. Sekarang ini hampir tidak ada lagi yang lakukan pengiriman karena mahal. Paling kirim juga dan putus di jakarta dan tidak bisa ekspor langsung," katanya. (Tim) 

2019 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika