Main Area

pesparawi xiii

Main

Badan Pendiri dan Amungme Noserei Anggap Musdat Lemasa Tidak Sah

Badan Pendiri dan Amungme Noserei saat jumpa pers/Foto : Tim

Timika,TabukaNews.com -  Badan Pendiri Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA) dan Dewan adat Suku Amungme Noserei menilai pembentukan Panitia Musyawarah Adat Luar Biasa (Musdatlub) suku Amungme oleh pihak Odizeus pada tanggal 8 Februari lalu, dianggap tidak dan sah karena tidak memiliki dasar hukum. 

Pasalnya yang berhak mengeluarkan rekomendasi untuk dilakukan Mudat adalah Komisioner Lemasa, Badan Pendiri dan Dewan adat Amungme Noserei, selain itu juga Odizeus Beanal tidak mempunyai wewenang, dan yang bersangkutan telah diberhentikan sejak tanggal 14 November 2019, oleh pendiri Lemasa dan Amungme Naisorei. 

Komisaris Lemasa Yopi Yoseph Kilangin mengatakan, pemberhentian sudara Odizeus oleh komisaris dan Badan pendiri berarti yang bersangkutan tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pertemuan atau kegiatan mengatasnamakan Lemasa.

“Sehingga pertemuan dengan agenda pembentukan Panitia Musdatlub dinilai salah dan membuat bingung masyarakat, dia tidak berwenang melakukan itu, dia menggunakan atribut dan jabatan itu bukan sebagai orang Lemasa, jadi kalau dia melakukan menunjukan terhadap panitia yang dia bentuk itu bukanlah sesuatu yang benar,” ungkap Yopi dalam jumpa pers, Senin (10/02/20).

Dijelaskan bahwa, Komisaris Lemasa, pendiri Lemasa dan Amungme Naisorei menolak pengangkatan ketua panitia Musdatlub suku Amungme saat dilakukan pertemuan oleh beberapa oknum yang diundang oleh Odizeus Beanal yang mengatasnamakan Lemasa.

Dalam pernyataan penolakan itu ada 11 ponit penting diantaranya, Musyawarah Adat adalah forum evaluasi dan forum pengambilan keputusan tertinggi di tingkat suku dan diatur didalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga LEMASA.

Badan pendiri Lemasa dan Amungme Naisorei memiliki kewenangan secara hukum untuk memutuskan pelaksanaan Musdat dan berhak mengangkat Panitia Pelaksana Musdat, Direktur Eksekutif sebagai Ketua Badan Pengurus tidak memiliki kewenangan secara hukum untuk mengangkat panitia pelaksana Musdat suku Amungme, saudara Odizeus selaku penyelenggara rapat dimaksud tidak memiliki legal standing (dasar hukum) untuk menyelenggarakan rapat yang mengatasnamakan Lemasa.

Didalam point tersebut juga menegaskan bahwa saudara odizeus beanal telah diberhentikan dari jabatannya sebagai direktur eksekutif lemasa sejak tanggal 14 november 2019 dalam Rapat Istimewa Badan Pendiri dan Amungme Naisorei, atas perbuatan penyalahgunaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Direktur Eksekutif Lemasa selama 4 tahun, dan mengangkat Stingal Jhonny Beanal sebagai Direktur Eksekutif Lemasa. 

Dengan demikian Odizeus Beanal tidak memiliki dasar hukum untuk menggunakan atribut Lemasa, dan menghargai proses hukum yang diajukan di PN Timika, dan pengangkatan Ketua Panitia Musdatlub adalah sebuah pelanggaran

Menanggapi itu, Direktur Lemasa antar waktu Stingal Johnny Beanal mengatakan, apa yang dilakukan oleh saudara odizeus dalam pembentukan panitia Musdat itu melanggar aturan rumah tanga lemasa sehingga dianggap tidak sah. 

“ Dasar apa pihak Odi melaksanakan pembentukan Panitia sedangkan tanggal 14 November 2019 lalu para pendiri LEMASA, Komisaris Lemasa dan Amungme Naisorei telah memberhentikannya sebagai,” ujar Johnny.

Johnny menjelaskan, proses pemberhentian Odizeus Beanal berdasarkan aturan dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga pasal 9 ayat 2 tentang kepengurusan yang mana pasal tersebut berbunyi “anggota pengurus dipilih jangka waktu 5 tahun dan ditetapkan oleh Badan Pendiri dan dapat diberhentikan oleh Badan Pendiri”.

“Proses pemberhentian Direktur Lemasa berdasarkan AD/ART Lemasa pasal 9 ayat 2 tentang pengurus,” jelasnya.

Sementara itu, Badan Pendiri Lemasa Yohanis Kasamol, SE mengatakan, seorang Direktur merupakan Ketua Harian dalam Lembaga Adat yang mana pihak yang memiliki posisi tertinggi didalam sebuah lembaga adat ialah Dewan Adat.

Sehingga, seseorang yang diangkat dan diberhentikan didalam sebuah organisasi merupakan hal yang wajar, namun berbeda jika diangkat dan diberhentikan dengan tidak hormat karena memiliki kesalahan, berarti ada sesuatu yang dibuat melanggar aturan yang berlaku didalam sebuah organisasi.

“Pengangkatan dan Pemberhentian itu adalah hal yang lumrah untuk setiap organisasi, tapi berbeda jika diberhentikan karena ada masalah,” jelas Kasamol. 

Dewan Adat Amungme Noserei, Jannes Natkime mengatakan sebagai genarasi amungme harus duduk berpikir baik dalam mengambil keputusan, Amungme Noserei sedang menghadapai laporan pengadilan yang dilayangkan oleh sudara Odizeus sehingga generasi amungeme di mohon tenang jangan melakukan sikap yang dapat merugikan. 

 “Perlahan sama sama bergandengan tangan kemudian ditutup dengan seuatu, jangan cipatakan banyak soal sehingga tidak bisa mengantar orang amungme kedepan,” Jelasnya.

Berharap marih mengunakan otak yang dingin untuk marih bersama sama duduk bersama menyatuhkan presepsi menuju musdat yang membawahi 11 wilayah adat suku amungme.

 “Bapak Tom (Thom Beanal) tidak letakan rel itu , marih kita bergabung selesaikan satu pekerjaan dan duduk bersama, jangan membawa masyarkat ini ke jurang namun kembali ke jalan yang benar,” ujar anggota Amungme noserei. (tim)

2020 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika