Main Area

Main

15 Siswa PKL Asal Yogyakarta Kabur Dari Kapal

15 siswa asal SMKN 1 Temon,  Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta saat berada di Sekretariat KKJB Timika. Jalan Budi Utomo ujung

Timika, TabukaNews.com -  Akibat mengalami tindakan tudak menusiawi atau persekusi dari Anak Buah Kapal (ABK), sebanyak 15 siswa Praktek Kerja Lapangan (PKL) asal SMK N 1 Temon, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta memilih melarikan diri dari KM Rafindo Jaya 01 dan KM Feru Ardana 3.

Belasan siswa kelas dua jurusan Nautika dan teknik ini sempat melarikan diri dan bersembunyi di masjid dekat pelabuhan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Pomako, Senin 6 januari 2020 lalu. Kemudian bertemu dengan salah satu warga pekerja pabrik sagu di Jalan Hasanuddin dan sempat tinggal bersama sebelum diambil oleh pihak pengurus Kerukunan Keluarga Jawa Bersatu (KKJB) Kabupaten Mimika , saat ini belasan siswa tersebut ditampung sementara sambil menunggu hasil koordinasi baik dari pemilik kapal dengan pihak sekolah untuk memastikan nasip para siswa tersebut.

Berdasarkan jadwal sekolah, belasan siswa malang ini seharusnya melaksanakan PKL selama tiga bulan sejak tanggal 17 Desember  2019.  Namun beberapa hari  sejak tanggal tersebut, ABK  di masing-masing kapal  selalu memperlakukan mereka dengan tidak wajar. 

Para siswa praktek ini dipaksa kerja dari pukul 04.00 WIT dinihari hingga pukul 01.00 WIT malam, pekerjaan yang dilakukan yaitu menarik jaring ikan dengan berat  yang mencapai berton-ton kemudian disortir hasil tangkapan tersebut. 

FK  yang merupakan siswa yang melaksanakan PKL di Kapal  KM Feru Ardana 3 mengaku, Salah satu di antara mereka yang mengalami sakit, juga dipaksa untuk tetap bekerja dengan ancaman jika tidak bekerja, maka tidak akan diberikan sertifikat PKL. 

“selain dipaksa menarik jaring ikan, juga disuruh untuk makan sambal kosong tanpa adanya nasi.” Ungkap salah seorang siswa.

Siswa lainya juga mengalami persekusi dan kerap mendapat ancaman dan intimidasi dari ABK, baik berupa cekikan bahkan ada yang menampar mengunakan sandal, juga mendapatkan perlakuan dengan mengaitkan ganco atau serok ikan di bagian leher.

“kami kerja mulai fajar tiba sampai jam satu malam dan tidak boleh istirahat. Kami selalu dibentak-bentak oleh ABK.  Teman kami ada yang sakit, tapi tetap diperintahkan untuk kerja oleh nakoda. Kami juga diancam tidak akan tandatangani sertifikat praktek,”  ungkapnya kepada awak media Kamis (9/1/2020).

Sementara untuk makan hanya diberikan dua kalai sehari yakni pagi dan sore, para siswa terpaksa menyembunyikan nasi untuk makan apabila merasa lapar dikapal. 

Hal yang sama juga dialami oleh enam siswa lainnya yang melaksanakan PKL di KM  Rafindo Jaya 01. ancaman selalu dilontarkan oleh beberapa orang ABK kepada setiap rekan-rekannya. Bahkan, satu diantaranya mencapatkan ancaman akan dibunuh, jika tidak melaksanakan perintah. 

“waktu itu ada ABK yang mabuk yang mengancam bunuh teman saya, otomatis kami takut dan tidak tahan dengan situasi seperti itu, makanya kami kompak untuk mencari kesempatan untuk kabur. Kalau mereka sedang mabuk sering ancam, tetapi saat tidak mabuk juga sering lontarkan kata-kata kasar,” jelas siswa yang tidak sebutkan namanya itu. 

Sebelumnya pada desember diantar pihak sekolah ke SMKN II Rembang  dan dijemput oleh seorang ibu berinisial V yang merupakan istri seorang nakoda kapal. Selanjutnya kami menggunakan pesawat ke Papua. Sejak tanggal 17 desember itu mulai naik kapal dan berlayar di lautan papua sampai ke Makassar dan transit dari pelabuhan ke pelabuhan lainnya. 

“Seharusnya kami PKL itu untuk mengenal persoalan mekanik dan pernakodaan sesuai jurusan kami masing-masing. Tapi yang terjadi sangat mengancam jiwa kami,” jelas para siswa.

Hingga saat ini, persoalan tersebut masih menunggu hasil koordinasi menentrian perikanan di wilayah pomako dengan pihak sekolah dan pihak nakoda kapal untuk menyelesikan persoalan tersebut. 

Karena kejadian tersebut bukan yang pertama pada tahun lalu juga terjadi kejadian yang serupa diaman sebanyak 26 siswa praktek juga mengalami hal yang sama dan bahkan lebih parah sehingga di pulangkan oleh pengurus KKJB kabyupaten mimika ke daerah asal mereka . (tim)

2020 TabukaNews.com | Designed by Putra Timika Informatika